"Karena aku bukan hanya butuh status, sayang.. Tapi aku juga butuh pengakuan di hadapan teman-temanmu."
Senin, 18 Maret 2013
Senin, 11 Maret 2013
...
Tanggal berapa sih ini? Hah? Apa yang sebelumnya baik-baik saja bakal berubah gara-gara suatu kesalahan kecil? Kecil, iya. Kecil. Tapi mungkin besar bagimu. Aku nggak tahu apa yang ada dipikiranmu saat ini. Jujur aku nyesel, aku kecewa, aku bingung aku harus ngelakuin apa. Setiap orang pasti punya privasi kan? Dan nggak semua privasi itu harus dikasih tau ke orang-orang kan? Kalau kamu nggak bisa ngasih alasan kenapa aku nggak boleh liatin isi hapemu, aku juga berhak nggak ngebolehin kamu liatin hapeku. Kamu udah gede, kamu udah tahu dan udah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah menurut kamu. Kalau cuma gara-gara masalah ini kamu bisa semarah ini, aku rasa kamu masih childish. Kamu nggak mikir apa yang udah kamu perbuat ke aku? Aku memang sabar, tapi sabar juga ada batasnya. Aku nggak pernah marah kan kalo kamu masih mikir mantanmu? Ya, dia yang masih mengganjal di hatimu kan? Aku juga punya hati woi! Aku nggak pernah nutup-nutupin apa-apa ke kamu. Aku nggak pernah punya rahasia yang nggak aku ceritain ke kamu. Sekarang terserah kamu, harusnya kamu mikir. Jangan sampai nyesel nanti. :--)
Kamis, 17 Januari 2013
Definisi
"Lantas apa puisi itu?", Saya bilang yang diniatkan penciptanya sebagai puisi itulah puisi.
dikutip dari Try Out Bahasa Indonesia,
tahun 2012-2013.
Selasa, 23 Oktober 2012
Three
- Sulitnya membangun sebuah kepercayaan, apalagi jika kepercayaan itu telah terkhianati sebelumnya -
Minggu, 21 Oktober 2012
Jumat, 07 September 2012
Surat Perdana #1
Rintik hujan kala itu mengajakku menghampirimu, perasaan bahagia, senang, sudah pasti apalagi yang akan kutemui adalah lelakiku, ya kamu. Dengan langkah penuh semangat, ku turunkan kakiku dari mobil penumpang tersebut di atas aspal yang becek terkena air hujan.
Oh ya, ternyata kamu sudah menjemput di tempatku turun. Berbunga-bunga rasanya melihat sosok orang yang sangat ku sayang datang menghampiriku seraya tersenyum. Betapa aku seperti ada di surga dunia.
Kita berdua melangkah menuju kediamanmu. Jalan setapak yang basah itu menjadi saksi bahwa kita pernah bersama, bersatu saling mencinta.
Hawa dingin merasuk, tetapi aku tak dapat merasakan, karena kamu ada di sisiku. Semua tentangmu tergambar jelas di dalam rumah itu. Rumah yang tidak cukup megah namun mampu menampung jutaan kenangan milik anak berusia 19 tahun.
Larut dalam suasana damai, terasa tubuh ini didekap tubuhmu. Hangat. Jari-jemariku kau isi dengan jari-jemarimu. Pipiku kau kecup lembut. Candamu, alunan gitarmu, seperti masih terdengar jelas disini. Merambah semakin keras dan keras..
Aku rindu itu semua cinta,
Salam manis,
♥
Langganan:
Postingan (Atom)